Medianesia.id, Jakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG menyimpulkan penyebab terjadinya bencana longsor di Serasan Natuna.
“Ada beberapa hal yang menjadi hasil penyelidikan pasca-bencana longsor di Pulau Serasan Natuna,” ujar Pusat PVMBG Anjar Pranggawan, Jumat (7/4/2023) dikutip dari Antara Kepri.
Dijelaskannya, hasil penyelidikan tersebut di antaranya berkaitan dengan morfologi relatif datar dapat digunakan tempat relokasi yang memerlukan pematangan perencanaan dan penyelidikan.
Baca Juga :Pencarian Korban Bencana Longsor Serasan Natuna Dihentikan, Empat Korban Tidak Berhasil Ditemukan
“Diperlukan peningkatan daya dukung tanah yaitu dapat dilakukan dengan cara pemadatan atau pergantian material tanah dan pondasi,” jelas Anjar Pranggawan.
Sementara untuk pemanfaatan air tanah, sebaiknya dicarikan sebaran akuifer selain endapan pasir pantal. Selain itu pihaknya juga memberikan sejumlah rekomendasi, baik secara struktural dan non struktural.
“Antara lain perbaikan pola tata ruang, vegetasi, drainase, dan penggunaan lahan yang ramah lingkungan,” jelasnya lebih lanjut.
Baca Juga : Natuna Berduka, Satu Kampung di Serasan Dilanda Longsor
Selanjutnya hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana secara struktural melakukan edukasi peningkatan kapasitas masyarakat di Pulau Serasan dengan pola 3M, yakni Memantau, Menutup, dan Melaporkan retakan
“Sosialisasi mitigasi bencana harus terus dilaksanakan secara berkala. Bencana gerakan tanah terjadi di Pulau Serasan merupakan tipe longsor yang berkembang menjadi aliran rombakan,” paparnya.
Gerakan tanah susulan berpotensi bencana longsor akan terjadi kembali jika terjadi hujan dengan intensitas yang cukup lama dan tinggi.
Baca Juga : Gubernur Apresiasi Pemerintah Pusat Cepat Tanggap Tangani Bencana Longsor Serasan, Natuna
Menurutnya, dimensi longsor utama di Dusun Genting, Desa Pangkalan di Pulau Serasan mempunyai panjang 752 meter, lebar mahkota 44 meter, tinggi 164 meter, dengan luas area 7,388 hektare.
“Selain longsor utama, ada beberapa daerah yang berpotensi terjadi pergerakan tanah, diantaranya Desa Air Raya, Arung Ayam, Desa Air Ringau, dan beberapa desa lain yang ditetapkan sebagai zona merah,” tutupnya.
Penulis : Ags
Editor : Ags





