Ini Alasan 5 November Jadi Momen Spesial buat Pecinta Alam

Ini Alasan 5 November Jadi Momen Spesial buat Pecinta Alam
Foto jalan setapak di Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT. Setiap tanggal 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Foto: Unsplash.

Medianesia, Batam – Setiap tanggal 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN).

Momen ini bukan sekadar tanggal di kalender, tapi ajakan agar kita lebih peduli pada tanaman dan hewan di sekitar.

Istilah puspa berarti bunga, sedangkan satwa berarti hewan. Jadi, HCPSN adalah pengingat agar kita menjaga kekayaan hayati—mulai dari bunga khas Indonesia hingga satwa langka yang menjadi kebanggaan bangsa.

Peringatan ini juga jadi momentum untuk hal-hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau mendukung penelitian konservasi.

Baca juga: KPK Tangkap Gubernur Riau, Catatan Kelam yang Terulang Lagi

Dengan langkah kecil seperti itu, kita ikut melindungi ekosistem Indonesia yang luar biasa kaya.

HCPSN pertama kali ditetapkan pada tahun 1993 melalui Keputusan Presiden Nomor 4 yang ditandatangani Presiden Soeharto.

Saat itu, pemerintah ingin menumbuhkan kesadaran publik terhadap ancaman alam seperti penebangan liar dan perburuan satwa.

Sejak saat itu, setiap 5 November menjadi hari refleksi bagi banyak orang. Kini, perlindungan terhadap keanekaragaman hayati juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 2018, yang mencakup 919 jenis tumbuhan dan hewan langka.

Sejarah HCPSN menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kesadaran kecil—dari cinta terhadap alam sendiri.

Puspa Nasional: Bunga-Bunga yang Jadi Simbol Negeri

Indonesia punya tiga bunga nasional yang masing-masing punya makna tersendiri:

Melati (Jasminum sambac) – disebut puspa bangsa, melambangkan kesucian dan kesederhanaan.

Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) – simbol pesona keindahan yang tumbuh di berbagai hutan lembab.

Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) – bunga terbesar di dunia yang unik karena aromanya yang khas.

Ketiganya bukan sekadar bunga, tapi simbol dari keindahan dan keberagaman alam Indonesia yang perlu dijaga.

Baca juga: 71 Ribu Perempuan Indonesia Pilih Childfree

Satwa Nasional: Tiga Ikon Kebanggaan Nusantara

Selain bunga, Indonesia juga punya tiga satwa nasional dari tiga habitat berbeda:

Komodo (Varanus komodoensis) – satwa darat terbesar yang hanya ada di Nusa Tenggara Timur.

Ikan Siluk Merah (Scleropages formosus) – ikan air tawar yang jadi simbol kemakmuran.

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) – burung langka yang sering disebut mirip lambang Garuda.

Ketiganya adalah pengingat bahwa perlindungan satwa bukan sekadar tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita semua.

Tema HCPSN 2025: Menjaga Kekayaan Hayati Nusantara

Tahun ini, tema Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional adalah “Menjaga Kekayaan Hayati Nusantara.” Pesannya jelas: mari bertindak nyata untuk melestarikan flora dan fauna Indonesia.

Mulai dari kegiatan kecil seperti mengurangi plastik sekali pakai, menanam pohon, hingga ikut kampanye pelestarian lingkungan—semua bisa berdampak positif bagi alam.

Baca juga: Ada Laporan Oknum Bea Cukai Nongkrong di Starbucks, Menkeu Purbaya Langsung Bereaksi

Cara Seru Rayakan HCPSN

  • Rayakan HCPSN dengan cara sederhana tapi bermakna. Misalnya:
  • Menanam melati atau anggrek di halaman rumah.
  • Berkunjung ke taman nasional dan mengenal satwa asli Indonesia.
  • Membuat poster bertema puspa dan satwa lalu membagikannya di media sosial.
  • Mengadakan diskusi di sekolah tentang pentingnya menjaga alam.

5 November bukan hanya tentang mengenang, tapi juga tentang bertindak. Karena mencintai alam berarti menjaga masa depan kita sendiri.(*)

Editor: Brp

Pos terkait