Indonesia Siap Ekspor Listrik Bersih 2 GW ke Singapura, Nilai Investasi Capai Rp 812 Triliun

Indonesia Siap Ekspor Listrik Bersih 2 GW ke Singapura, Nilai Investasi Capai Rp 812 Triliun
Indonesia Siap Ekspor Listrik Bersih 2 GW ke Singapura, Nilai Investasi Capai Rp 812 Triliun. Foto: Ilustrasi Pexels.

Medianesia.id, Batam – Kabar terbaru datang dari rencana kerja sama ekspor listrik ‘bersih’ dari Indonesia ke Singapura.

Kemenko Marves mengungkapkan bahwa Singapura telah meminta kuota 4 Giga Watt (GW) listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Indonesia hingga tahun 2035. Namun, Indonesia diberikan kuota untuk mengekspor sebesar 2 GW.

“Jadi setengahnya. Itu 2 GW itu equivalent kalau power plant biasa. Kalau misalnya ditranslate ke solar panel, itu mungkin kira-kira sekitar 11 GW peak plus baterai 21 GW hour. Itu very very big project,” kata Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Selasa (30/4/2024).

Singapura memilih Indonesia sebagai mitra ekspor listrik ‘bersih’ karena potensi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia yang besar, sementara Singapura sendiri memiliki keterbatasan sumber energi.

Proyek ekspor listrik ini ditaksir memiliki nilai investasi mencapai US$ 50 miliar, setara dengan Rp 812 triliun (asumsi kurs Rp 16.242 per dolar AS).

“Jadi waktu itu dibuatlah suatu MoU untuk kerja sama ini, tapi memang prosesnya panjang karena ini mega proyek lah. Ini waktu kita susun MoU-nya itu bisa sampai US$ 50 billion investment,” tambah Rachmat.

Hingga September 2023, sudah ada lima perusahaan yang tergabung dalam kesepakatan kerja sama ini.

Saat ini, studi teknis sedang dilakukan untuk menentukan jalur transmisi dan lokasi pembangunan.

Meskipun ada kesepakatan ekspor, Indonesia tetap akan memperkuat industri EBT dalam negeri.

Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan rantai pasok untuk mendorong industri lain.

“Kita ingin juga ekspor listrik ini bisa mendorong industri EBT di Indonesia. Dengan cara apa? Tadi seperti yang Pak Presiden sampaikan, industri pendukung atau supply chain. Jadi persyaratan kita adalah, solar panel dan baterai energy storage sistemnya ini dibuat di Indonesia. Ini juga yang lagi kita dorong untuk mendorong pabrik-pabrik lain,” papar Rachmat.(*/Brp)

Editor: Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *