Medianesia.id, Tanjungpinang – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad, menggandeng RS Dr. Sardjito Yogyakarta sebagai rumah sakit pengampu dalam upaya memperkuat sistem informasi manajemen (SIM) dan tata kelola layanan di RSUP Raja Ahmad Tabib (RAT) Tanjungpinang.
Langkah ini diambil setelah Ansar melihat efektivitas pengelolaan sistem di RS Dr. Sardjito yang mampu melayani hingga 3.000 pasien per hari dan menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,3 triliun per tahun melalui pemanfaatan SIM RS yang efisien dan terintegrasi.
“Saya akan segera bersurat kepada Pak Menteri Kesehatan agar RS Dr. Sardjito dapat menjadi rumah sakit pengampu bagi RSUP RAT. Kita ingin mereka membantu memperkuat manajemen dan sistem layanan kita,” ujar Ansar, belum lama ini.
Menurut Ansar, penerapan SIM RS di RS Dr. Sardjito layak dijadikan model. Dengan sistem yang terstandarisasi, manajemen bisa berjalan efektif tanpa membebani masyarakat. Bahkan, sistem tersebut diyakini mampu menutup celah permainan internal.
“Manajemen mereka tidak memberatkan masyarakat, tapi efisien karena memanfaatkan SIM RS secara optimal. Jika sistem berjalan baik, tidak akan ada lagi karyawan rumah sakit yang bermain-main,” tegas Ansar.
Ia berharap, penerapan sistem serupa di RSUP RAT dapat mengefisienkan layanan hingga ke hal teknis yang selama ini menghambat operasional rumah sakit.
“Dengan sistem yang baik, hal-hal kecil seperti kebocoran AC dan lainnya tidak perlu lagi menyita waktu. Yang utama adalah masyarakat mendapat layanan terbaik,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur RSUP RAT Tanjungpinang, Bambang Utoyo, membenarkan rumah sakit yang ia pimpin telah menggunakan sistem informasi manajemen RS yang dikembangkan RS Dr. Sardjito sejak akhir 2023.
“SIM RS kami sudah memakai sistem dari RS Dr. Sardjito sejak akhir 2023. Bulan lalu juga sudah dilakukan penambahan fitur sesuai kebutuhan pelayanan,” jelasnya.

Bambang menyebutkan sejumlah kemajuan yang sudah berjalan mulai dari, seluruh layanan sudah elektronik, tanpa lagi menggunakan kertas. Kemudian, pendaftaran, resep obat, hingga pelayanan farmasi sudah otomatis lewat sistem.
Selanjutnya, pasien kini bisa melihat rekam medisnya sendiri hanya dengan memasukkan nomor rekam medis di aplikasi. Serta, hasil radiologi, laboratorium, hingga alokasi obat muncul otomatis dalam sistem.
“Dengan SIM RS, semuanya lebih terkendali secara elektronik. Tidak ada lagi paper. Semuanya digital,” ungkapnya.
Baca juga: Rumah Baru Lebih Kokoh, Warga Bintan: Terima Kasih Pemprov Kepri
Bambang menambahkan, sistem baru ini juga mendukung kendali mutu dan kendali biaya. SIM RS menyesuaikan pola tarif BPJS sehingga biaya perawatan dan penggunaan obat dapat dipantau secara ketat.
“Pasien datang dengan keluhan tertentu, nanti dokter akan memberikan tindakan dan obat yang sudah sesuai standar cost BPJS. Semuanya terkontrol, sehingga rumah sakit bisa lebih survive,” katanya.
Fitur pengaduan masyarakat juga tersedia di sistem, sehingga setiap keluhan pasien dapat ditindaklanjuti lebih cepat dan transparan.
Dengan perbaikan sistem hingga penguatan manajemen melalui rumah sakit pengampu, RSUP RAT menargetkan bisa mempertahankan akreditasi paripurna pada tahun depan.
“Kami ingin seluruh layanan, termasuk mutu dan keselamatan pasien, semakin standar dan siap untuk akreditasi paripurna tahun depan,” tutup Bambang.
Upaya menggandeng RS Dr. Sardjito diharapkan semakin memperkuat kapasitas sistem layanan RSUP RAT sebagai rumah sakit rujukan utama di Provinsi Kepulauan Riau.(ADV)
Editor: Brp





