Gelombang Panas Ekstrem di Asia Selatan Ancam Ratusan Juta Jiwa, Suhu Tembus 49°C

Gelombang Panas Ekstrem di Asia Selatan Ancam Ratusan Juta Jiwa, Suhu Tembus 49°C
Ilustrasi. Gelombang panas ekstrem yang melanda India dan Pakistan sejak awal April 2025 telah memecahkan rekor suhu, dengan beberapa wilayah mencatatkan temperatur hingga 49°C. Foto: Dok Pexels.

Medianesia.id, Batam — Gelombang panas ekstrem yang melanda India dan Pakistan sejak awal April 2025 telah memecahkan rekor suhu, dengan beberapa wilayah mencatatkan temperatur hingga 49°C, setara dengan suhu di Death Valley, Amerika Serikat—salah satu tempat terpanas di dunia.

Departemen Meteorologi India dan Pakistan memperingatkan bahwa gelombang panas kali ini datang lebih awal dan diperkirakan akan bertahan lebih lama dari biasanya, dengan risiko besar terhadap kesehatan, ekonomi, dan ketahanan pangan di kawasan.

“Ini seperti tinggal di oven. Pemadaman listrik hingga 16 jam per hari membuat situasi semakin tak tertahankan,” ujar Ayoub Khosa, warga Dera Murad Jamali, Pakistan.

Kondisi cuaca ekstrem memicu lonjakan kasus kesehatan serius, termasuk dehidrasi akut, kelahiran prematur, serta meningkatnya risiko kematian ibu hamil akibat komplikasi seperti preeklampsia.

Di Rajasthan, India, organisasi Thar Mahila Sansthan mencatat kenaikan signifikan pasien dengan gejala dehidrasi berat.

Sementara di Karachi, Pakistan, data dari Konfederasi Bidan Internasional menunjukkan peningkatan 80 persen kelahiran prematur dengan gangguan pernapasan.

Di sektor pertanian, petani menghadapi kerugian besar akibat gagal panen dan serangan hama yang meningkat tajam. Seperti dialami Tofiq Pasha, petani asal Sindh, Pakistan, yang menyebut 70 persen hasil panennya gagal.

“Bunga dan buah gugur sebelum matang, sementara hama berkembang pesat dalam cuaca ekstrem seperti ini,” jelasnya.

Ahli iklim dari Islamabad, Mehrunissa Malik, menegaskan bahwa satu miliar penduduk Asia Selatan berpotensi terdampak langsung oleh perubahan iklim yang menyebabkan intensitas dan durasi gelombang panas meningkat drastis.

Pemerintah India dan Pakistan pun kewalahan memenuhi lonjakan kebutuhan listrik, sementara beberapa kota terpaksa menutup sekolah dan membatasi operasional transportasi umum untuk melindungi warganya dari paparan panas ekstrem.

Para ilmuwan memperkirakan gelombang panas ini bisa menjadi yang terburuk dalam sejarah modern Asia Selatan, dengan potensi korban jiwa melebihi rekor sebelumnya jika tidak ada intervensi serius.(*)

Editor: Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *