Medianesia.id, Tanjungpinang — Rencana pembangunan jalan layang (flyover) di Simpang Kota Piring, Tanjungpinang, yang awalnya ditargetkan terealisasi pada 2026, dipastikan batal.
Padahal, proyek yang diperkirakan memakan biaya senilai Rp120 miliar ini digadang-gadang sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan di kawasan tersebut.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, membenarkan pembangunan flyover belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat karena keterbatasan anggaran.
Selain itu, menurutnya, sudah ada solusi sementara yang cukup efektif mengurai kemacetan.
“Pembatas jalan sudah dipasang di sana. Kalau dibuat permanen juga tidak masalah karena cukup efektif mengurai kemacetan. Manfaatnya mirip dengan tujuan dibangunnya flyover,” ujar Ansar, Selasa (3/6/2025).
Ansar mengungkapkan, proses koordinasi dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang juga sudah dilakukan, termasuk soal pembebasan lahan yang dinilai cukup mahal.
Jika anggaran tersedia, proyek akan kembali diprioritaskan, kemungkinan pada 2027 atau 2028.
“Tahun depan kita fokus menyelesaikan proyek yang sudah berjalan, seperti pembangunan Monumen Tugu Bahasa dan Kantor OPD Bersama. Kalau suatu masalah sudah ada solusi sementara, maka pembangunan bisa ditunda sampai anggaran memungkinkan,” tegasnya.
Sementara itu, sebelumnya Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, memutuskan untuk menunda rencana pembangunan flyover dan mengalihkan fokus ke perbaikan Jalan Pelantar 2 yang mengalami kerusakan parah dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Pak Gubernur dan sepakat untuk menundanya tahun depan,” ujar Lis usai menghadiri kegiatan Bazar Murah, Sabtu kemarin. (Ism)
Editor: Brp





