Medianesia.id, Batam – Inter Milan bersiap menghadapi partai final Liga Champions 2024/2025 melawan Paris Saint-Germain (PSG) dengan membawa modal penting, pengalaman dan ketangguhan mental.
Di bawah asuhan Simone Inzaghi, Nerazzurri akan melakoni laga hidup-mati di Allianz Arena, Munich, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB, sebagai penentu arah musim yang penuh dinamika.
Musim ini, Inter sempat diprediksi mampu mengulangi kejayaan treble 2010 era Jose Mourinho.
Namun kenyataan berkata lain. Mereka tersingkir dari Coppa Italia usai dikalahkan rival sekota AC Milan dan harus merelakan gelar Serie A jatuh ke tangan Napoli.
Kini, satu-satunya harapan untuk menyelamatkan musim tersisa di Liga Champions.
“Kami masih merasakan luka dari kekalahan di liga. Rasa sakit itu nyata bagi saya dan para pemain,” ujar Inzaghi seperti dikutip dari Bein Sports.
Sepanjang fase grup, Inter menunjukkan ketangguhan lini belakang dengan hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan.
Statistik tersebut menjadi cerminan identitas tim: solid di belakang, efisien di depan.
Ketangguhan itu berlanjut di fase gugur yang dramatis. Setelah melewati hadangan Feyenoord dan Bayern Munchen, Inter menunjukkan mental baja saat menyingkirkan Barcelona di semifinal.
Gol penyeimbang Francesco Acerbi di waktu tambahan dan penyelesaian apik Davide Frattesi mengunci kemenangan agregat 7-6—sebuah pencapaian bersejarah.
Acerbi, yang kini berusia 37 tahun, menjadi simbol ketekunan Inter. Ia mencetak gol pertamanya di kompetisi Eropa dalam momen krusial, membalas luka kekalahan di final dua tahun lalu dari Manchester City.
Berbeda dengan PSG yang mengandalkan darah muda dan kecepatan, Inter datang dengan armada veteran.
Para pemain seperti Yann Sommer, Stefan de Vrij, Matteo Darmian, Henrikh Mkhitaryan, Hakan Calhanoglu, Piotr Zielinski, Marko Arnautovic, dan Mehdi Taremi menjadi tulang punggung tim. Mayoritas dari mereka berusia di atas 30 tahun.
Data mencatat Inter memberikan 43,3 persen menit bermain mereka di Liga Champions musim ini kepada pemain berusia di atas 30 tahun—hanya kalah dari Atletico Madrid (43,5%).
Total menit bermain pemain senior Inter mencapai 6.151, tertinggi sejak Juventus di musim 2016-2017.
Konsistensi menjadi kekuatan. Inter hanya tertinggal selama 1,2 persen dari total waktu bermain mereka di Liga Champions musim ini.
Bahkan ketika tertinggal, durasinya sangat singkat—terlama hanya 370 detik saat melawan Bayern Munchen.
Dengan 50,8 persen waktu pertandingan dihabiskan dalam posisi unggul, Inter menunjukkan kontrol permainan yang stabil.
Ini bisa menjadi senjata penting saat menghadapi PSG, yang tengah memburu sejarah meraih treble winners untuk pertama kalinya.
Final ini bukan sekadar duel antar dua tim raksasa Eropa. Ini adalah pertarungan antara kedalaman pengalaman Inter dan ambisi penuh gairah PSG.
Jika Inter Milan mampu menjaga ritme dan fokus, sejarah bisa saja berpihak pada biru-hitam untuk kembali menguasai Eropa—membawa pulang trofi Liga Champions keempat mereka.(*)
Editor: Brp





