Medianesia.id, Tanjungpinang – Pemerintah resmi menetapkan pembangunan Estuary Dam Teluk Bintan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan digarap pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Proyek besar ini juga mencakup pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Penetapan proyek tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Kedelapan atas Permenko Nomor 7 Tahun 2021 tentang Daftar Proyek Strategis Nasional, yang ditandatangani Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 24 September 2025.
Dengan nilai investasi mencapai Rp14 triliun, Estuary Dam diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air baku di Pulau Bintan dan Batam, dua kawasan yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Kepri.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan proyek vital ini. Menurutnya, Estuary Dam bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi investasi strategis untuk menjamin ketahanan air dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Karena pelaksanaannya berada di daerah, tentu tidak terlepas dari aspek sosial, lingkungan, dan pengadaan lahan. Kita akan membentuk tim kecil untuk mendampingi prosesnya, karena air adalah hajat hidup orang banyak,” tegas Ansar saat memimpin rapat bersama Konsorsium PT Tamaris Hydro dan PT Moya Indonesia di Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Juni 2025 lalu.
Ia menambahkan, Pemprov Kepri telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari integrasi proyek ke RTRW dan RISPAM, hingga pelaksanaan kajian sosial dan penetapan lokasi.
Baca juga: Wagub Bangga Kafilah Kepri Harumkan Tanah Melayu di STQH Nasional
“Yang paling penting adalah sosialisasi ke masyarakat. Proyek ini sangat strategis, tidak hanya untuk ketahanan air, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi ke depan,” ujarnya.
Gubernur Ansar juga menegaskan, pembangunan Estuary Dam tidak boleh merugikan nelayan yang menggantungkan hidupnya di sekitar kawasan proyek.
Ia telah meminta pihak konsorsium melakukan kajian komprehensif untuk meminimalkan dampak sosial dan lingkungan.

“Saya sudah minta mereka buat kajian. Kita harus pikirkan para nelayan yang menggantungkan hidupnya di wilayah itu. Mungkin nanti bisa diberikan alat tangkap alternatif yang lebih baik,” jelas Ansar.
Ansar, yang juga pernah menjabat Bupati Bintan dua periode, menilai proyek ini jauh lebih efisien dibandingkan rencana lama seperti pembangunan Dam Busung dan Dam Kawal yang berpotensi menenggelamkan hingga 10 desa.
“Sekarang skalanya lebih kecil, hanya membutuhkan lahan beberapa hektare saja. Ke depan, kita akan sangat membutuhkan air. Dalam 5–10 tahun ke depan, bisa jadi kita kewalahan kalau tidak disiapkan dari sekarang,” katanya.
Menepis kekhawatiran publik, Asisten II Bidang Ekonomi Pemprov Kepri, Luky Zaiman Prawira, menjelaskan bahwa Estuary Dam tidak akan menenggelamkan daratan seperti proyek sebelumnya.
Baca juga: Pemprov Kepri Siapkan Beasiswa untuk 58 Dokter Spesialis
“Bendungan ini dibangun di laut, membendung kawasan dari Madong, Senggarang, hingga Teluk Bintan. Jadi jangan termakan isu. Proyek ini justru solusi rasional dibandingkan opsi sebelumnya seperti Dam Busung atau Kawal,” jelas Luky.
Ia mengungkapkan, kebutuhan air di Bintan dan Batam saat ini sudah sangat mendesak. PDAM baru mampu memenuhi sekitar 34 persen kebutuhan air bersih masyarakat di Bintan.
“Volume air yang tersedia belum cukup. Estuary Dam adalah solusi paling realistis dan efisien,” tegasnya.
Sementara itu, Vice President PT Moya Indonesia, Daud, menjelaskan bahwa proyek ini akan mengintegrasikan bendungan laut, sistem transmisi, dan instalasi pengolahan air menuju Bintan dan Batam.
Air laut akan ditampung, lalu diolah menjadi air tawar menggunakan teknologi desalinasi modern, sebelum disalurkan kepada konsumen.
“Selain bendungan dan reservoir, proyek ini juga mencakup pembangunan unit air baku, unit produksi air bersih, serta infrastruktur jalan di atas bendungan,” ungkapnya.
Menurut Daud, dengan adanya Estuary Dam dalam PSN diharapkan dapat menutup kesenjangan pasokan air baku yang diprediksi terjadi pada tahun 2029, sekaligus mendorong kemandirian air Kepri dan memperkuat daya saing kawasan industri Batam–Bintan. (ADV)
Editor: Brp





