Medianesia.id, Liverpool – Rivalitas abadi antara Manchester United dan Liverpool bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah laga bertajuk Derby Barat Laut.
Rivalitas abadi dan pertarungan dua kota industri, dua kebanggaan wilayah Barat Laut Inggris dan dua simbol kejayaan sepak bola Inggris.
Derby Barat Laut adalah laga yang sarat emosi, gengsi dan sejarah panjang yang membelah para penggemarnya dari generasi ke generasi.
Awal rivalitas abadi dua klub sejatinya lahir jauh sebelum sepak bola modern berkembang.
Pada abad ke-19, Liverpool dan Manchester merupakan dua kota industri Inggris.
Baca juga: Potensi Kembalinya Eks Liverpool Steven Gerrard ke Glasgow Rangers
Manchester United dikenal sebagai kota tekstil dengan julukan Cottonopolis, sementara Liverpool tumbuh pesat sebagai pelabuhan utama untuk ekspor-impor hasil industri.
Ketegangan muncul ketika Kanal Kapal Manchester dibuka pada tahun 1894.
Kanal ini memungkinkan Manchester berdagang langsung dengan dunia tanpa melalui pelabuhan Liverpool.
Hal ini membuat perekonomian kota pelabuhan itu menurun drastis.
Dari sinilah, benih rivalitas abadi antarwarga dua kota mulai tumbuh.
Pertemuan Pertama dan Awal Api Permusuhan
Laga pertama antara kedua klub tercatat pada 28 April 1894, saat Newton Heath (cikal bakal Manchester United) kalah 0–2 dari Liverpool dalam laga play-off promosi-degradasi.
Sejak saat itu, laga keduanya selalu penuh tensi. Namun, rivalitas modern mulai benar-benar membara dan panas sejak era 1960-an.
Saat Liverpool di bawah asuhan pelatih Bill Shankly yang mulai mendominasi sepak bola Inggris, sementara Manchester United asuhan Sir Matt Busby menjuarai European Cup (Liga Champions) 1968.
Pada era 1970–1980-an, Liverpool menjadi simbol kejayaan sepak bola Inggris dengan menjuarai Liga Inggris dan Liga Champions berkali-kali.
Baca juga: Liverpool Menang di Derby Merseyside, Sapu Bersih 5 Kemenangan Beruntun di Liga Primer Inggris
Liverpool menjadi klub tersukses dan paling ditakuti di Eropa.
Namun, memasuki era 1990-an, giliran Sir Alex Ferguson membangkitkan Manchester United.
Di bawah sang pelatih legendaris asal Skotlandia itu, Manchester United merajai Premier League (Liga Primer Inggris) beberapa dekade.
Bahkan sukses menyalip jumlah trofi Liga Primer Inggris miliki Liverpool.
Hal ini menyalakan kembali bara derby paling klasik yang sempat meredup.
Rivalitas di Era Modern, Gengsi yang Tidak Pernah Padam
Memasuki era modern, dengan munculnya pelatih-pelatih seperti Jurgen Klopp dan Erik ten Hag, Derby Barat Laut tetap menjadi salah satu laga paling dinanti di dunia.
Lebih dari sekadar tiga poin, laga ini selalu menjadi pertarungan identitas dan harga diri, baik bagi para pemain, pelatih, maupun jutaan penggemar di seluruh dunia.
Setiap bentrokan Manchester United dan Liverpool tersiar ke lebih dari 180 negara, menyulut euforia luar biasa di kalangan fans dari Inggris hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Baca juga: Derby Manchester: Man City Libas Man United 3-0, Haaland Cetak Brace
Derby Barat Laut telah melampaui batas lapangan hijau.
Ia adalah kisah panjang tentang sejarah dan kebanggaan dua kota besar yang berdiri hanya berjarak sekitar 55 kilometer.
Tak hanya itu, laga panas kedua klub menjadikan rivalitas abadi ini penuh makna dalam sejarah sepak bola Inggris. (*)
Editor: Brp





