Medianesia, Batam – Fenomena Purnama Perige atau supermoon yang terjadi pada 7 Oktober 2025 bukan hanya sekadar pemandangan langit yang menawan.
Media Indonesia melaporkan, Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram, I Wayan Suana, cahaya bulan yang lebih terang dan pasang surut ekstrem bisa memengaruhi perilaku berbagai spesies hewan.
“Ada dua faktor utama yang memengaruhi perilaku hewan saat supermoon: cahaya bulan yang lebih kuat dan pasang surut air laut yang lebih ekstrem,” ujar Suana saat dihubungi di Mataram, Selasa (7/10/2025).
Baca juga: Pemerintah Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama Tahun 2026
Supermoon, atau Bulan Purnama Perigean, memancarkan cahaya lebih terang dibanding purnama biasa.
Hal ini membuat hewan laut maupun darat yang sensitif terhadap cahaya malam bereaksi terhadap perubahan tersebut.
Di laut, fenomena ini bisa mengubah pola migrasi, waktu pemijahan, hingga perilaku makan ikan, plankton, kepiting, penyu, hingga predator laut yang mengandalkan pasang surut.
Sementara di darat, serangga malam, burung hantu, kelelawar, dan mamalia nokturnal juga menunjukkan perubahan aktivitas.
Baca juga: 18 Gubernur Datangi Kemenkeu Protes Pemotongan Dana TKD
“Predator lebih mudah berburu dengan bantuan sinar bulan, sementara mangsa menjadi lebih waspada dan cenderung mengurangi aktivitas malam,” jelas Suana.
Ia menambahkan, hewan yang peka terhadap cahaya bulan hampir selalu bereaksi saat supermoon muncul.
“Serangga malam dan kelelawar, misalnya, konsisten berubah perilakunya setiap kali supermoon terjadi,” kata dosen Fakultas MIPA Unram itu.
Secara astronomi, fenomena ini terjadi saat Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi (Perigee) bersamaan dengan fase purnama.
Baca juga: HUT ke-80 TNI: Panglima TNI Tekankan Soliditas dan Kedekatan dengan Rakyat
Pada 7 Oktober 2025 pukul 10.47 WIB, Bulan mencapai purnama dengan jarak 361.458 km dari Bumi.
Kemudian, pada 8 Oktober pukul 19.35 WIB, Bulan berada di posisi Perigee sejauh 359.819 km.
Sebagai perbandingan, purnama pada 13 April 2025 terjadi saat Bulan berada di titik terjauhnya (Apogee) sejauh 406.006 km.
Artinya, supermoon Oktober ini akan tampak sekitar 12% lebih besar dibanding purnama April lalu.(*)
Editor: Brp





