Medianesia.id, Batam – Asam lambung naik atau berbalik, atau sering dikenalnya dengan sebutan GERD (gastroesophageal reflux) pada umumnya sering terjadi pada pria maupun wanita. Gejalanya seperti ada sensasi terbakar atau heartburn serta rasa tidak nyaman di dada.
Kendati demikian, asam lambung bukan hanya soal GERD saja, terkadang orang tidak sadar dirinya mengakami laryngopharyngeal reflux (LPR). Tak seperti GERD, LPR biasanya tidak terlalu berasa sehingga dijuluki sebagai ‘Silent Reflux). Duo GERD dan LPR ini tidak boleh disepelekan, karena efeknya bisa fatal.
Bicara soal asam lambung naik atau berbalik (acid reflux), umumnya orang langsung terpikir gastroesophageal reflux (GERD). GERD ditandai dengan sensasi terbakar atau heartburn serta rasa tidak nyaman di dada. Namun asam lambung naik bukan hanya soal GERD, terkadang orang tidak sadar dirinya mengalami Laryngopharyngeal Reflux (LPR).
Tidak seperti GERD, LPR cenderung memunculkan gejala yang tidak kentara sehingga dijuluki ‘silent reflux.’ Hanya saja LPR tidak boleh disepelekan, karena efeknya bisa fatal.
Melansir dari WebMD, di kedua ujung kerongkongan terdapat cincin otot (sfingter). Otot ini menjaga isi perut pada tempatnya. Begitu ada kondisi LPR, sfingter tidak bekerja dengan benar. Asam lambung naik ke bagian belakang tenggorokan (faring) atau kotak suara (laring) atau bahkan ke bagian belakang saluran napas hidung. Akibatnya, timbul peradangan di area yang terpapar asam lambung.
Apa saja sih gejala dari reflux silent?
1. Sulit tidur nyenyak
Clark A. Rosen, direktur divisi langingologi di University of California San Francisco Health, berkata saat tidur di malam hari, asam lambung dapat naik kembali ke kerongkongan dan merangsang sensor di lapisan tenggorokan. Akibatnya asam mengiritasi tenggorokan sehingga timbul masalah pernapasan dan kejang tenggorokan. Tentu ini otomatis membuat Anda kerap terbangun dan tidur jadi kurang berkualitas.
Apa saja pemicunya? Melansir dari Livestrong, refluks asam mudah timbul karena posisi kita yang sambil tidur atau berbaring. Pada posisi seperti itum perut dan tenggorokan sejajar sehingga asam dapat mengalir dengan mudah.
2. Sakit tenggorokan dan suara serak
Asam lambung yang naik akan membakar lapisan halus pada tenggorokan sehingga timbul sensasi seperti terbakar. Selain itu suara cenderung serak sebab pita suara bengkak atau mengalami iritasi akibat paparan asam.
3. Batuk dan mengi
Asam lambung memang masalah pencernaan tetapi karena ada interaksi dengan tenggorokan, orang yang mengalami silent reflux mungkin mengalami gejala pernapasan seperti batuk dan mengi (napas berbunyi seperti nada tinggi).
Akan tetapi riset menemukan gejala pernapasan tetap bisa terjadi meski asam lambung tidak sampai ke tenggorokan. Asam di bagian bawah kerongkongan bisa mengakibatkan saluran pernapasan di paru (bronkiolus) menyempit seperti terkena serangan asma.
4. Sulit menelan
Perasaan yang amat sangat mengganggu ketika kita sulit menelan. Kemungkinan kita sedang mengalami silent reflux. Saat asam lambung menyentuh tenggorokan dan kerongkongan, timbul peradangan dan iritasi pada lapisan saluran menelan dan tenggorokan.
5. Benjolan di tenggorokan
Kondisi silent reflux perlahan menimbulkan sensasi seperti ada benda asing yang tersangkut di tenggorokan. Ini bukan karena makanan yang belum tertelan sempurna melainkan ada benjolan akibat paparan asam lambung
Berikut ada strategi untuk mengendalikan silent reflux:
1. Batasi makan pada larut malam
Beri jarak antara jam makan malam dengan jam tidur. Ini akan mengurangi risiko asam lambung naik saat tidur. Rosen menyarankan untuk menunggu setidaknya 2-3 jam setelah santapan terakhir atau camila sebelum tidur.
2. Jaga berat badan agar tetap stabil
Kelebihan berat badan akan menimbulkan tekanan pada perut dan memaksa isi perut (plus asam lambung) naik ke esofagus terutama saat malam. Tidak heran silent reflux sangat rentan dialami mereka yang kelebihan berat badan dan obesitas. Kuncinya hanya kontrol berat badan agar gejala bisa dikendalikan.
3.Membatasi makanan yang dapat menimbulkan atau memicu refluks asam
Rosen menyarankan untuk mengurangi atau menghindari makanan yang mengandung asam dan pedas. Kemudian kurangi makanan yang bisa mengendurkan sfingter seperti kopi, cokelat dan alkohol. Kebiasaan merokok pun perlu dihindari karena bisa memicu refluks.
4. Pengobatan
Konsultasikan ke dokter mengenai kondisi Anda. Dalam kasus tertentu, perubahan diet dan gaya hidup kadang tidak cukup sehingga perlu diperkuat dengan konsumsi obat. Biasanya dokter akan meresepkan antasida untuk menetralkan asam di perut, alginate untuk mencegah refluks, atau histamine H2-receptor antagonists yang mengurangi produksi asam lambung.





