71 Ribu Perempuan Indonesia Pilih Childfree

childfree
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, Wihaji, saat meninjau Tempat Penitipan Anak di kawasan Jalan Kuantan, Tanjungpinang, Kamis, 23 Oktober 2025. Ia mengungkapk, sebanyak 71 ribu wanita Indonesia memilih Childfree. Foto: Ismail

Medianesia.id, Tanjungpinang – Fenomena childfree atau pilihan menikah tanpa memiliki anak kini menjadi perhatian serius pemerintah.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, Wihaji, mengungkapkan keputusan banyak perempuan untuk tidak memiliki anak bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan karena ketiadaan sistem pengasuhan anak yang memadai di tengah tuntutan kerja masyarakat modern.

“Sebanyak 71 ribu perempuan Indonesia ingin menikah, tetapi tidak ingin punya anak. Mereka bilang, ‘Ribet, Pak. Saya mau kerja, tapi yang ngasuh enggak ada. Masa ibu saya jadi pembantu?’” ujar Wihaji saat meninjau Tempat Penitipan Anak di kawasan Jalan Kuantan, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis, 23 Oktober 2025.

Menjawab persoalan tersebut, pemerintah menghadirkan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang dikelola oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Program ini dirancang sebagai solusi pengasuhan anak bagi keluarga muda yang bekerja, terutama di wilayah perkotaan.

Baca juga: DKPP Sanksi Ketua dan Anggota KPU RI Terkait Penggunaan Jet Pribadi

Hingga saat ini, tercatat sudah berdiri 3.202 unit Tamasya di berbagai daerah.

Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi para orang tua serta memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal.

“Negara hadir, pemerintah hadir. Kami ingin memastikan anak-anak yang diasuh memiliki pola pengasuhan yang benar, dan para pengasuh pun mendapatkan sertifikasi agar mampu menjalankan tugas dengan profesional,” jelas Wihaji.

Ia menjelaskan, program Tamasya memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memastikan anak-anak mendapatkan pengasuhan yang baik dan terukur.

Kedua, memberi ketenangan bagi para orang tua yang bekerja agar anak mereka tetap terurus dengan layak.

Ketiga, memperkuat bina keluarga balita agar anak-anak tetap tumbuh sehat dan bahagia meski orang tua sibuk bekerja.

Baca juga: Kapal Kayu Misterius Terbakar di Selat Riau, Petugas Tak Temukan Awak Kapal

Salah satu contoh keberhasilan program ini terlihat di Tamasya Asri di Kota Tanjungpinang, yang dikelola secara swasta namun tetap berada di bawah pembinaan kementerian.

“Kami melihat pengelolaannya luar biasa. Ada 40 anak usia lima hingga enam bulan yang diasuh dengan sangat baik. Bahkan sebelum dijemput orang tua, semua sudah dimandikan. Ini contoh pengasuhan yang berkualitas,” tutur Wihaji.

Ia menambahkan, meski sebagian Tamasya dikelola swasta dan bersifat berbayar, pemerintah juga menyediakan banyak Tamasya gratis melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan provinsi.

“Dengan program ini, kami berharap tidak ada lagi alasan bagi para perempuan untuk takut memiliki anak (childfree) karena kendala pengasuhan. Anak-anak adalah generasi masa depan Indonesia. Tugas kita bersama memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan perhatian,” pungkasnya.(Ism)

Editor: Brp

Pos terkait